Sunday, September 19, 2010

Being Dirty I Like

Saya punya cerita.
(Cerita ini sedikit banyak menginspirasi saya menulis cerpen Si Simpel Delly)

Dulu pas saya ngekos, saya punya banyak teman kos dirumah itu. Enaknya ngekos disana, kos-kosnya nggak sebatas kamar aja. Ada ruang tivi yang bisa kita pakai sama-sama.
Salah satu teman kos menempati kamar yang paling besar. Biayanya juga lebih besar, pastinya. Saya selalu kagum kalau masuk kamarnya karena kamarnya selalu dirawat bersih dan wangi. Kamarnya benar-benar ditata rapi. Setiap orang yang masuk kesana pasti betah.

Tapi, nggak ada yang nyangka bagaimana kelakuannya kalau di luar rumah, tepatnya di ruang tivi saat kita lagi nonton bareng. Asli itu orang yang paling 'nyampah' diantara kita semua. 

Sehabis nonton, bantal sofa yang dipakai untuk bersandar nggak pernah dikembalikan lagi ke tempatnya. Terus, kalau dia bawa makanan bungkus, sudah dipastikan bungkus bekas makanannya masih ada disana beserta piring dan sendok kotornya. Walhasil orang yang duduk disitu setelah dia pasti merasa risih dan mau nggak mau merapikannya.
Betapa kontrasnya! Ruang kamar dia begitu rapi dan bersih. Siapapun tahu orang itu paling anti bawa makanan ke kamarnya. Kenapa? karena dia nggak pingin kamarnya kotor! Tapi dengan santainya ia mengotori tempat lain. Kami geleng-geleng dibuatnya.

Dengan nada yang hati-hati supaya nggak menyinggung, saya bicarakan ini padanya. Sambil cengengesan dia bilang "maap, kak..lupa. hehe.." ('kak'? maklum, saya lebih senior, hehe..)
Tapi kog kalo merapikan kamarnya nggak pernah lupa ya? #heran

Orang seperti ini, saya jamin -walaupun saya jarang melihat dia diluar rumah kos- pasti sering buah sampah sembarangan. Dimana pun. Entah itu sampah besar atau kecil, yang namanya sampah ya sampah. Kalau bungkus permen? tisu bekas? pulpen macet? puntung rokok?? Itu lagi. Saya nggak perlu menghitung berapa jumlah orang yang saya pergoki buang sampah sembarangan setiap harinya, mau itu di angkot, di jalan, di kereta, bus, terminal!, sekolah, kampus, kantor? dimana-mana. Itu bukan lagi pemandangan yang wah. Biasa. Benar-benar biasa..walaupun sampai detik ini setiap melihat orang melakukan itu hati saya kesal dibuatnya. Tidak sayangkah kalian pada bumi tempat kalian berpijak?

Lihatlah betapa minim kesadaran masyarakat kita akan lingkungannya. Seorang ibu membiarkan anaknya membuang sampah melalui jendela kendaraan pribadinya, sementara dia marah-marah saat anaknya meninggalkan sampah di atas meja tamu di rumahnya sendiri. Mengapa justru di tempat umum, di tempat 'milik bersama' atau justru malah di tempat 'bukan milik siapa-siapa' itu anda bertindak seenaknya?

Bukankah ini terbalik? Bukankah ini yang dinamakan egois?

Saya tidak munafik, jujur saya pun terkadang kotor. Sebut saya jorok, sebut saya berantakan. Memang, kamar saya terkadang seperti kapal pecah. Sampah-sampah seperti tisu, plastik, kertas berserakan dimana-mana. Tapi, itu sebatas kamar saya saja. Diluar batasan itu, saya tidak menyampah. Saya bertindak seenaknya di dalam kamar saya. Terus terang, saya terkadang malas setiap hari harus membersihkan kamar. Tapi dalam hal ini, siapa yang dirugikan? Saya sendiri.

Paling tidak, saya berusaha tidak merugikan orang lain.

Saya beruntung memiliki orangtua yang sangat peduli akan hal ini. Saya teringat ketika dulu sewaktu ayah saya masih sering mengendarai mobil, kami sekeluarga selalu pulang kampung saat lebaran. Persediaan makanan yang banyak membuat sampah kami mengumpul dan tak cukup lagi ditampung di tong sampah kecil yang kami sediakan di mobil. Plastik pun terbatas, sehingga sampah-sampah itu berserakan di antara kaki-kaki kami. Ayah marah ketika kami mencoba membuangnya lewat jendela. "Memangnya kamu tau sampah itu akan mendarat di tempat sampah? Kalau tidak bisa menjamin, jangan sekali-kali kamu lakukan."
Baru setelah mobil berhenti, kami mengumpulkannya dan membuangnya di tempat yang sepatutnya.

Jika tas ibu saya anda buka, terkejutlah anda melihat isinya penuh dengan tisu-tisu yang sudah setengah pakai alias sudah dipakai tetapi masih bisa dipakai lagi. Selain beliau peduli lingkungan, ia juga orang yang irit. Selain tisu-tisu itu, akan kalian temukan juga beberapa bungkus permen dan beberapa bungkusnya saja, tanpa permen. Jika saya marah karena ibu tidak membuangnya, ibu bilang "Maaf sayang, ibu suka lupa. Waktu itu nggak ketemu tong sampah, sih. Kamu tolong buangin ya. Ingat, harus di tong sampah."


Jorok? Biarin.


This is being dirty that I like. 

1 comment:

  1. trimakasih cinta kamu telah mengingatkanku i lope u more

    ReplyDelete