Monday, September 13, 2010

Roh Pohon Mangga

* dimuat di  majalah Media Kawasan edisi Desember 2010


Erna baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya hanya dibalut handuk berwarna pink. “Huahh..” Ia terlihat lega sekali. Beban letih karena aktivitas hari ini menguap setelah sekujur tubuhnya direndam air hangat. Erna tau mandi malam tidaklah baik untuk tubuhnya, karena efeknya baru terasa dikemudian hari, ditandai dengan perasaan nyeri pada tulang. Namun Ia lakukan hanya dalam keadaan terpaksa, jika suatu hari begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukannya, yaitu jika pesanan catering ‘membludak’, seperti hari ini. Dan, tentu saja mandi malam harus menggunakan air hangat.
Ia melihat jam dinding dikamarnya. Tepat pukul 12 malam. Ia harus segera tidur dan mengumpulkan energinya untuk beraktivitas lagi besok pagi.
“Prang!” Suara dari ruang TV mengejutkan Erna. Ia lekas mengenakan baju seadanya dan menghampiri sumber suara.



Di ruang TV Ia melihat Temy, anak semata wayangnya yang baru kelas 1 SMP, sedang mematung menatap keluar jendela.
Tak beberapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat mendatangi mereka. Si Mbok berjalan tergopoh-gopoh.
“Saya mendengar suara piring pecah disini, Bu.” Si Mbok langsung angkat suara. Ia melihat ke arah Temy yang masih mematung.
        “Si Non kenapa?” tanya Si Mbok, penasaran.
        Erna menghela napas. Ia merasa pekerjaan yang sebenarnya belumlah berakhir, bahkan mungkin takkan pernah berakhir. Pekerjaan itu adalah menjadi kepala rumah tangga sekaligus ibu dan ayah bagi Temy.
Suaminya meninggal karena kecelakaan setahun yang lalu. Mereka kini hidup hanya bertiga dirumah yang cukup besar, warisan mertuanya.  Beruntung Erna pandai memasak, Ia membuka usaha catering yang cukup diminati. Dari sinilah Ia dapat memenuhi kebutuhan diri dan anaknya.
Hanya ada satu pembantu dirumah itu. Si Mbok yang sudah bekerja disana sejak suami Erna masih lajang. Erna merasa kasihan pada Mbok yang sudah tua, meski tenaganya dirasa amat kuat untuk umur seperti Si Mbok. Erna bukannya tidak sanggup membayar beberapa pembantu untuk mengurusi usaha cateringnya. Namun tidak ada satu pun pembantu yang betah tinggal dirumah itu. Aneh-aneh saja alasannya. Pembantu baru Erna yang terakhir meminta izin untuk pamit pulang ke kampung karena Ia merasa bergidik setiap kali menyapu di teras.
 “Sudahlah Mbok, kamu sudah terlalu letih. Besok juga harus bangun pagi kan ? Sekarang pergilah tidur. Biar saya yang mengurus sisanya.” Ucap Erna, tegas.
“Baik, Bu.” Si Mbok beranjak menuju kamarnya ragu-ragu.
Erna melirik kearah Temy. Anaknya masih mematung di tempat Ia berdiri. Sekali lagi Erna menghela napas. “Temy, sedang apa kamu? Mengapa kamu belum tidur?” tanya Erna.
“Mah, ada poc..poc…poc….” Temy tergagap. Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
“Kenapa, Temy? Poci? Kamu memecahkan poci?” Erna bertanya tidak sabar.
Temy menggelengkan kepalanya sambil menunjuk keluar jendela. Erna pun segera menajamkan pandangannya menelusuri tempat yang ditunjuki Temy.
Erna menghela napas untuk yang ketiga kalinya.
Diluar rumah, tepatnya di teras samping ruang TV ada pohon mangga peninggalan kakek Temy. Pohon mangga itu sangat besar. Mangga-mangga tersebut belum masak. Biasanya supaya buah mangga cepat matang, pemiliknya membungkus mangga tersebut dengan karung beras, kertas koran, kain atau plastik. Itulah yang dilakukan Erna kemarin.
Perlahan Ia memegangi pundak anak yang sangat dicintainya itu. “Temy sayang, yang kamu lihat itu adalah buah mangga kesukaanmu. Buah itu Mamah ikat dengan plastik putih kemarin, supaya cepat masak. ‘ Kan kamu sendiri yang bilang sudah tidak sabar ingin menyantap buah mangga?” Ujar Erna, lembut.
Temy hanya terdiam. “Nah, sekarang bantu Mamah membereskan hasil dari ulah kamu ini ya…? Erna menunjuk pecahan beling di atas lantai.
Kali ini Temy cemberut.
***
Sore hari, sambil menyeruput kopi panas diteras rumahnya, Erna menunggu Temy pulang dari sekolah. Tiba-tiba hembusan angin dari pohon mangga membuat Erna bergidik. Ia merasa agak gelisah dan memutuskan untuk beranjak dari sana . Namun tak sengaja Erna melihat buah mangga yang masih dibungkus oleh plastik. Ia memeriksa keadaan buah mangga tersebut. “Cepat sekali buah ini masak.” Pikirnya. Erna pun segera membuka plastik pembungkus dan memetiknya.
        “Dulu, ketika ayahnya bapak masih hidup, beliau sangat suka dengan pohon mangga ini. Saya sering melihat beliau seperti bercakap-cakap sendiri disamping pohon mangga.” Kenang Si Mbok dari dalam rumah, tepat di pintu keluar teras.
        Ia menatap Erna dan tersenyum. “Buah mangga itu cepat sekali masak, bukan? Sebenarnya pembungkus itu tak perlu. Karena pohon ini sedang bergembira…hari ini adalah hari ulang tahun beliau.” Erna menahan napasnya, terkejut. Ia tak pernah tau kapan ulang tahun ayah mertuanya. Bertemu langsung pun tak pernah. Sang ayah mertua sudah lama meninggal. Ia jadi merasa bagai sang menantu yang durhaka.
        Si Mbok pun melanjutkan, “Pohon mangga ini seperti memiliki jiwa. Di hari kematian beliau, pohon ini seperti ikut mati. Warna daunnya menjadi keabuan, tak ada satu pun buah yang tumbuh, padahal sedang musimnya.” Raut wajah Si Mbok berubah sayu.
        Bulu kuduk Erna berdiri. Ia tak dapat berkata apapun. Bersamaan dengan itu, terdengar suara Temy memanggil Erna dari pintu depan. Rupanya anak semata wayangnya itu sudah pulang dari sekolah. Erna bergegas beranjak dari teras untuk menemui anaknya.
***
        Malam harinya, sebelum penghuni rumah bersiap untuk tidur, Temy bertanya pada Erna, “Mah, kapan mangganya masak?”
“Sudah masak kok, sayang.” Erna menjawab spontan.
        “Lalu kenapa masih dibungkus, Mah?” tanya Temy sambil melihat keluar jendela.
        “Deg.” Jantung Erna berdetak. Ia terdiam. Erna ingat betul sudah melepaskan plastik itu tadi sore, bahkan mangganya pun sudah dipetik. Lalu apa yang dilihat Temy? Samakah wujud itu ketika Temy sampai menjatuhkan piring kemarin malam? Tidak…bukan kemarin, tapi tepat jam 12 pagi. Masih hari ini! Mungkinkah benar itu adalah poc…

…hari ini adalah hari ulang tahun beliau.

        Tiba-tiba suara Si Mbok tadi sore terngiang dalam benak Erna. 
Erna bergidik.
***
Di kamar tidur, Erna berusaha menenangkan diri. Ia memanjatkan doa untuk mendiang ayah mertuanya. Besok Erna berniat untuk mengunjungi kuburan beliau. Dengan begitu, Ia akan dianggap sebagai menantu yang berbakti oleh ayah mertuanya di alam sana, pikirnya.

No comments:

Post a Comment