Thursday, September 23, 2010

Cocroachophobia

      *dimuat di majalah Media Kawasan

         
         "Aaaaaaaaaa…!!”
          Renny berteriak histeris. Suara kikik-an menahan tawa terdengar tak jauh dari sana.
“Lenaaaa! Awas kamu!” Ketika Renny bermaksud menghampirinya, seekor makhluk kecil yang tadi sempat menghilang tiba-tiba muncul lagi di hadapannya. Jeritan yang sama pun terdengar lagi. Tapi kali ini bukan suara mengikik yang terdengar, melainkan derai tawa yang panjang....
          Salah satu sahabatku bernama Lena. Diantara sahabatku yang lain, Lena paling pemberani. Tak ada yang ditakutinya. Ehm, maksudku, kami belum menemukannya. Dan ini membuat kami terjebak oleh keisengan yang dilakukan Lena. Contohnya si Renny tadi. Lena sengaja melepaskan seekor kecoak tak jauh dari tempat Renny berdiri. Alhasil, Renny yang sangat takut pada kecoak pun kaget dan berteriak.
          Beda denganku, aku sangat takut dengan hal-hal yang berbau ghaib. Jangan coba-coba mengajakku nonton film horror. Sejak dikerjai Lena tiga bulan lalu, kali ini setiap mau nonton di bioskop harus aku yang membeli tiketnya.

          Selain ada yang takut sama kodok, cicak, dan tikus, ada juga yang takut sama kucing. Padahal kucing kan lucu. Kucing itu hewan kesayanganku. Yang lebih aneh lagi, sepupuku takut sama kupu-kupu! Kalau ada kupu-kupu terbang di dekatnya, Ia perlahan-lahan menjauh. Ketika ditanya, Ia bilang “Aku jijik kalo membayangkan dulu kupu-kupu itu seekor ulat. Aku benci ulat!” Aduh….repot.
          “Kecoaknya udah pergi kan, Len?” tanya Renny..
          “Udaah. Loe tenang aja. Kecoaknya juga takut kali ngeliat elo.” Ucap Lena, santai.  
          “Awas loh Len, gue usir loe dari rumah gue kalo loe berani usil lagi!” Ancam Renny.
          “Tau loe Len, jarang-jarang kan loe diizinin nginep di luar sama nyokap?” Aku ikutan nimbrung.
           Lena terdiam. Ia seperti memikirkan sesuatu. 
          Aku beranjak dari tempatku duduk. “Mo kemana, Al?” tanya Lena tiba-tiba. Pertanyaannya tak kuhiraukan. Aku terus berjalan ke arah lemari pakaian.
          “Ren, pinjem piyama ya.” Pintu lemari kubuka.
          “Jangaaaaaaaaaan!!!” tiba-tiba Lena berteriak. Wajahnya pucat.
          Terlanjur.
          Dihadapanku, aku melihat sosok putih berdiri tegak diantara baju-baju di gantungan. Kepalanya terikat dan aku menjerit sejadi-jadinya, namun ajaib, suaraku tak keluar. aku pun terbata-bata.
           “Poc…poc…” Entah kenapa aku merasa sangat lemah. Tiba-tiba saja kakiku tak kuat menopang tubuhku. Aku merasa pening dan akhirnya terjatuh. Sebelum semua berubah menjadi hitam, aku mendengar Renny berteriak “LENAAAA, PERGI LOE DARI RUMAH GUE!!!”
***
          Mereka marahan sejak itu. Di sekolah, Alya dan Renny tidak menggubrisnya. Telfon darinya pun sengaja tidak dijawab. Mereka ingin memberinya pelajaran karena tindakannya yang sudah sangat keterlaluan.
          “Gimana nih, kasian juga dia kita cuekin kayak gitu. Udah tiga hari loh…” Renny mulai tak tega.
          “Tiga hari belum cukup, Ren. Loe nggak inget gue sampe pingsan waktu itu? Gila tuh anak keterlaluan banget. Sekarang gue kalo ngeliat guling parno tau nggak, gara-gara dia!” jelas Alya kesal dan berapi-api.
          Renny diam saja. Memang Lena sudah keterlaluan, tapi bagaimana pun Lena juga sahabatnya. Ia tak bisa mengacuhkan Lena lebih lama dari ini.
          Merasa tak ada respon dari Renny, Alya pun meneruskan ceritanya.    
          “Terus, masa’ loe nggak inget sih tahun lalu dia juga bikin loe hampir pingsan di hari ulang tahun elo?”
          Renny langsung flash back. Di hari ulang tahunnya enam bulan yang lalu, Lena pura-pura baik. Ia memberikan sekotak hadiah tanpa ada embel-embel kejutan seperti yang biasa Ia lakukan sebelumnya. Saat Renny membuka isi kadonya, tiba-tiba Lena berlari sambil menggandeng Alya dan mengunci pintu dari luar. Renny yang agak telmi pun telat bertindak, sehingga isi dalam kotak itu berhamburan keluar. Bisa ditebak, apa hadiah yang diberikan Lena untuknya. Lima ekor kecoak hidup! Renny menjerit dan membanting kotak tersebut ke lantai. Ia menggedor pintu, tapi tak dibuka. Renny pun pasrah. Meski lemas, matanya tak lepas memandangi kecoak-kecoak yang sedang berlarian di sana, berjaga kalau-kalau kecoak itu mendekatinya.
          “Halo, Ren? Halo? Loe masih disana?” suara Alya terdengar dari seberang.
          “Bener kata loe, Al. Tiga hari belum cukup buat menghukum Lena.”
          “Klik.” Dan Renny pun menutup telefonnya.
***
          Lena merasa letih. Sudah lama Ia duduk disamping meja telefon, berkali-kali gagal berbicara dengan kedua sahabatnya. Lena pun beranjak mandi.
          Sembari mandi, Lena mencoba introspeksi diri. Ia merasa sudah bertindak keterlaluan dan sekarang merasa amat bersalah. Ia berniat ke rumah dua sahabatnya itu untuk meminta maaf secara langsung pada mereka. Dan yang paling penting, dia berjanji tak akan mengulanginya lagi. Dengan ini, Lena yakin Renny dan Alya akan memaafkannya, dan mereka tetap menjadi sahabat selamanya.
          Lena tersenyum. Ia sudah tidak sedih lagi ketika melihat seekor kecoak berada di atas kubangan air. Keisengannya timbul. Ia mengambil arang panas dari dapur lalu Ia letakkan di atas kubangan tersebut.
           “Rasain loe, kecoak jelek. Loe suka bikin temen gue lari, sekarang giliran loe yang ngibrit!” Lena pun meneruskan mandinya.
          Tanpa Lena sadari, di dalam kubangan air itu, puluhan kecoak yang sudah lama bermukim disana kehabisan oksigen dikarenakan asap dari arang tadi. Mereka pun panik dan berusaha mencari sumber oksigen. Kecoak yang tadi sempat keluar dari kubangan segera mengirim sinyal kepada teman-temannya. Lalu, dengan naluri kehewanannya, puluhan kecoak itu dengan cepat keluar dari kubangan, terbang kesana kemari dan mendarat di tubuh Lena.
          “Clep…clep…clep…” satu persatu kecoak menempel di bagian tubuhnya. Di lengan, di dada, di pipi, di kaki, bahkan di pinggul dan matanya! 
          Terkejut dengan serangan puluhan kecoak, Lena pun menjerit dan berusaha menyingkirkan kecoak-kecoak itu dari tubuhnya. Tidak siap menerima keadaan ini dan sanking shocknya, Ia pun lemas tak berdaya dan jatuh tersungkur di kamar mandi.
***
          Renny, Alya dan Lena sudah berbaikan sekarang. Sejak kejadian itu, dokter mengatakan Lena mengalami trauma yang cukup parah. Ia phobia terhadap kecoak, bahkan jauh lebih parah daripada Renny. Kejadian ini memberikan pelajaran besar untuk Lena: Ia tak akan pernah lagi mengganggu makhluk hidup selama hidupnya.

No comments:

Post a Comment